Angka 4 Pada Jam Gadang dan Kejadian di Baliknya – Jam Gadang menjadi salah satu wisata ikonik dari Sumatera Barat, tepatnya berlokasi di Kota Bukittinggi. Jam yang konon merupakan hadiah dari Ratu Belanda, Wilhelmina, ternyata memiliki keunikan yang sangatlah menonjol. Jam Gadang sendiri dalam Bahasa Minang diartikan sebagai jam besar dengan diameter 80 cm, dan tinggi bangunan mencapai 26 meter.
Selain kerana bentuknya yang besar seperti Big Ben yang ada di London, Inggris, Jam Gadang memiliki jenis mesin yang sama, hingga disebut sebagai jam kembar. Sebab, mesin yang digunakan pun sama dan memang hanya ada dua di dunia. Keunikan menonjol dan menyimpan runtun kejadian yang tidak kebetulan pada Jam Gadang terletak pada penulisan angka 4 pada jam besar yang berjumlah 4 buah di setiap sisi bangunannya.
Angka pada Jam Gadang mengusung penulisan secara Romawi, tapi anehnya angka 4 yang seharusnya ditulis ‘IV’ justru dituliskan ‘IIII’. Hal ini tentu bukan karena kesalahan cetak atau kebetulan semata, karena sesungguhnya tida ada kebetulan di dalam kehidupan. Namun, angka 4 pada Jam Gadang menyimpan berbagai kejadian yang merupakan fakta dan bukan berasal dari sebuah kebetulan, yang menjadi rangkaian peristiwa berikut ini.
Tewasnya 4 Orang Tukang Batu Jam Gadang
Masih menjadi sebuah misteri akan kebenaran suatu cerita yang beredar di masyarakat terkait angka 4 yang dituliskan ‘IIII’. Konon, Jam Gadang yang dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto ini tidak menggnakan pondasi besi dan semen layaknya bangunan yang lain. Namun, hebatnya ikon Bukittinggi ini mampu berdiri kokoh sejak dibangun pada 1926-1927, hingga saat ini justru semakin indah.
Pelaksana pembangunan angka 4 pada Jam Gadang di masa Hindia-Belanda kala itu ialah Sutan Gigi Ameh untuk mewujudkan terciptanya inisiatif dari seorang Controleur Fort de Kock (sekertaris kota Bukittinggi) yang bernama Hendrik Roelof Rook Maker. Jam Gadang kala itu dibangun menggunakan bahan campuran kapur, pasir, dan putih telur. Di sinilah muncul mistis yang beredar menjadi sebuah kepercayaan turun-temurun masyarakat Minang.
Angka 4 yang dituliskan dengan Romawi ‘IIII’ berkaitan dengan mistis akan terbentuknya Jam Gadang di masa kolonial. Terdapat 2 versi cerita yang beredar terkait proses bangunan Jam Gadang yang dikaitkan dengan angka dan eksistensi kejadian yang bukan kebetulan, yakni adanya 4 orang yang tewas dalam proses pembuatannya. ‘IIII’ Romawi yang tidak dituliskan dengan ‘IV’ pada Jam Gadang ini untuk memperingati 4 orang tewas tersebut.
Artikel lain:
Versi pertama yang beredar di masyarakat mengenai angka 4 pada Jam Gadang dan kejadian di baliknya ialah 4 orang pekerja atau tukang batu yang membantu pembangunan jam yang memiliki mesin Vortmann Relinghausen ini tewas saat sedang membangun menara tinggi berbahan putih telur sebagai semennya. Hingga angka 4 dituliskan dengan Romawi yang berbeda ‘IIII’ bukan ‘IV’.
Namun, ada pula yang menceritakan bahwa angka Romawi pada Jam Gadang dituliskan ‘IIII’ dikarenakan 4 orang tukang batu tersebut tewas setelah pembuatan menara dengan jam besar di Fort de Cock (Bukittinggi masa Hindia-Belanda) ini selesai dilakukan. Memperingati usaha dan kerja keras mereka, maka angka 4 di jam yang besar tersebut dituliskan dengan Romawi yang berbeda, yakni ‘I’ yang berbaris sebanyak 4 kali.
Angka 4 Pesanan Ratu Belanda
Wilhelmina menjadi seorang Ratu Belanda yang kala itu menduduki Fort de Cock ingin memberikan hadiah istimewa, hingga tercetuslah untuk membuat sebuah menara dengan 4 jam besar yang akan menghiasi setiap sisinya. Konon, saat jam bermesin Vortmann ini ingin dibuat, Sang Ratu segera memesan angka 4 pada Jam Gadang dalam penulisan Romawi yang berbeda. Tentu bukan kebetulan, Wilhelmina inginkan angka 4 dibuat menjadi ‘IIII’.
Pada angka Romawi 4 memang umumnya dituliskan dengan ‘IV’, tapi Sang Ratu Belanda yang ingin memberikan hadiah dengan biaya pembangunan 3 ribu Gulden tersebut, tidak ingin jam hadiahnya dibuat dengan angka 4 yang semestinya. Sebab, 4 jika dituliskan dalam angka Romawi ‘IV’ menjadi sebuah singkatan 2 kata dari Bahasa Inggris yaitu I Victory, dan memiliki arti ‘Aku Menang’.
Jelas saja Wilhelmina yang kala itu menjadi Ratu Belanda, tidak ingin menimbulkan pemberontakan di wilayah kekuasaannya. Di mana Bangsa Indonesia bisa melakukan perlawanan dan beranggapan bahwa Belanda telah menyerah di masa jajahannya. Sehingga, Ratu Belanda ini memesan angka Romawi ‘IIII’ sebagai pengganti dari angka 4 pada Jam Gadang dengan angka Romawi yang umumnya.
Selain itu, Ratu Belanda juga memerintahkan agar atap dari menara dengan 4 buah jam besar ini berbentuk bulat lengkap dengan patung ayam jantan yang menghadap ke arah timur. Wilhelmina memiliki makna khusus dari angka 4 yang dibuat dengan penulisan Romawi ‘IIII’ dan juga atap dengan patung ayam jantan yang menghadap timur, yakni agar penduduk sekitar Kurai, Banuhampu, hingga daerah di sekitar Sarik Sungai Puar bangun pagi.
Sehingga, semua masyarakat jajahan Ratu Belanda ini dapat bekerja lebih giat di bawah pimpinannya. Bangun saat ayam jantan telah berkokok menjadi ciri khas atap Jam Gadang di masa kolonial. Angka 4 pada Jam Gadang pun dibuat dengan penulisan Romawi ‘IIII’ agar tidak ada perlawanan dan pemberontakan yang dapat meruntuhkan kekuasaannya di masa jajahan Belanda.
Awal Penulisan Angka 4 Romawi
Angka dan eksistensi kejadian terhadap kisah di balik pembangunan Jam Gadang yang sangat unik dengan penulisan angka Romawi yang berbeda, tentu menimbulkan berbagai persepsi di tengah masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia memiliki ragam budaya yang selalu diimbangi dengan berbagai legenda, termasuk untuk angka 4 pada jam besar yang bertuliskan Romawi dengan ‘IIII’ bukan ‘IV’.
Apalagi peletakan batu pertama dilakukan oleh seorang putra dari Rook Maker yang masih berusia 6 tahun, dan dibangun tanpa pondasi besi serta semen. Di sini muncul berbagai cerita yang dikaitkan dengan angka Romawi ‘IIII’ yang tidak ditulis ‘IV’. Angka 4 pada Jam Gadang dikaitkan dengan kisah mistis, yang dianggap telah melakukan tumbal terhadap 4 pekerja yang merupakan tukang batu, dan putih telur sebagai penguat dari bangunan.
Namun, kenyataannya Jam Gadang yang bertuliskan angka 4 dengan Romawi ‘IIII’ justru memiliki cara pandang yang berbeda dari beberapa ahli. Mereka mengungkapkan bahwa pada awalnya penulisan angka 4 dengan angka Romawi, memang dibuat menggunakan ‘I’ yang jumlahnya 4 kali. Selanjutnya, mengalami perubahan menjadi angka Romawi 4 menjadi ‘IV’, dan mulai diterapkan saat pemerintahan Louis XIV.
Angka 4 pada Jam Gadang yang bertuliskan angka Romawi ‘IIII’ ini ternyata memang mengikuti bentuk awal penulisan dari angka 4 Romawi. Ada kemungkinan lebih berkaitan dengan alasan Ratu Belanda yang memilih penulisan angka 4 Romawi seperti bentuk awalnya, agar tidak terjadi pemberontakan di masa kepemimpinannya kala itu.
Arti Nama dalam Navigasi Numerologi didasarkan pada pemahaman tentang kualitas unik yang ditemukan dalam analisis nama Anda. Pemilihan nama adalah terjemahan bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam memberikan nama untuk Anda.
Arti Nama Numerologi yang terkandung di dalam nama Anda mewakili pola pikiran mental yang merangsang kualitas kecerdasan Anda dengan cara tertentu. Kualitas-kualitas ini dapat bersifat membangun atau merusak, seimbang atau tidak seimbang.
Setelah Anda memiliki wawasan tentang arti nama numerologi dalam nama Anda, Anda akan menyadari pola berpikir Anda secara keseluruhan, termasuk kekuatan dan kelemahan Anda.
Free Scan Nama dan Arti Nama
dengan Download Aplikasi ARCBali Numerology Pro Version




