Makna angka 11 pada upacara yadnya, Bali – Dalam praktik agama Hindhu yang ada di Bali, terdapat lima jenis upacara Yadnya dengan sebutan Panca Yadnya. Yadnya sendiri merupakan korban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas dalam ajaran agama Hindhu. Kata Yadnya sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan akar kata dari Yaj dengan artian memuja, atau mempersembahkan korban suci.
Jenis Upacara Yadnya
Kelima jenis Yadnya yang dimaksud adalah Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Kelima jenis Yadnya ini tentunya memiliki penjelasannya masing-masing.
Untuk Dewa Yadnya sendiri merupakan yadnya yang dilakukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rsi Yadnya merupakan yadnya yang dilakukan kepada para rsi terhadap jasa-jasanya dalam membina umat dan mengembangkan ajaran agama Hindhu.
Pitra Yadnya merupakan yadnya yang dilakukan untuk para roh leluhur termasuk orang tua yang masih hidup. Manusa Yadnya merupakan yadnya yang dilakukan kepada sesama manusianya. Terakhir, Bhuta Yadnya disini merupakan yadnya yang dilakukan untuk para Bhuta Kala dengan tujuan sebagai penetralisir kekuatan alam agar menjadi lebih harmonis.
Untuk Yadnya yang dilakukan setiap hari sering disebut dengan istilah Yadnya Sesa. Upacara ini dalam bahasa Bali sering disebut sebagai Mesaiban. Bagi Anda yang merupakan warga Bali tentu sering melakukan yadnya sesa ini sebagai bentuk rasa syukur kepada sang hyang widhi untuk keberkahan yang diberikan.
Ternyata, Bali juga menyimpan sebuah cerita dibalik makna angka 11 pada upacara yadnya yang sering dilakukan para penganut agama Hindhu, terutama yang ada di Bali. Untuk membahas hal tersebut, apakah Anda sudah kenal dengan yang namanya Meru atap 11? Jika belum, berikut akan diberikan ulasannya untuk Anda.
Meru Beratap 11
Bangunan meru dengan atap tingkat 11 ini merupakan lambang dari 11 huruf suci yang dipercaya oleh masyarakat penganut agama Hindhu. Meru ini berisi 10 huruf suci ditambah dengan satu huruf suci Omkara. Huruf Omkara ini digunakan sebagai lambang dari Eka Dasa Dewata.
Sedangkan ada juga Meru dengan atap 9 yang terdiri dari 8 huruf yakni sa, ba, ta, a, na, ma, si, dan wa serta satu huruf Omkara yang ada ditengah. Nah, 9 huruf tersebut merupakan lambang dari Dewata Nawa Sanga.
Artikel lain:
Meru merupakan lambang atau simbol dari Andha Bhuwana. Setiap tingkatan pada atap meru ini merupakan sebuah simbol dari Bhuwana Agung atau disebut Makrokosmos dan Bhuwana Alit atau yang disebut dengan Mikrokosmos. Dalam Lontar Andha Bhuwana ini, makna angka 11 pada upacara yadnya menyimpulkan bahwa kata meru sejatinya berasal dari kata ‘me’ dan ‘ru’.
Me sendiri memiliki makna meme atau ibu, sedangkan kata ru memiliki artian bapak atau guru. Sehingga melahirkan makna meru yang memiliki arti cikal bakal dari ibu bapak sebagai leluhur yang menjadi asal muasal semua manusia.
Meru Menurut Mitologi
Jika dilihat dari mitologinya, meru merupakan sebuah nama dari Gunung di Sorgaloka yang dijadikan sebagai tempat bersemayamnya Bhatara Siwa. Dalam Lontar Tantu Pagelaran, terdapat Kekawin Dharma Sunia, dan Usana Bali.
Meru digunakan sebagai lambang dari Dewa Pratista yang fungsinya adalah sebagai tempat pemujaan dewa. Karena digunakan sebagai tempat pemujaan dewa, maka peletakan meru dipilih di tempat pemujaan pada bagian halaman pura utama.
Baca juga:
Perlu Anda ketahui juga, bahwa makna angka 11 pada upacara yadnya yang ada di hampir seluruh pura besar di Bali, seperti Pura Batur dan Pura Besakih memiliki bangunan meru dengan ciri atapnya bertingkat-tingkat hingga menyerupai gunung.
Bentuk meru ini juga terlihat dari upacara ngaben yang dilakukan oleh masyarakat Hindhu sebagai wadah mayat pada upacara Pitra Yadnya. Bahkan, ada banyak sekali jejak gunung yang dianggap sebagai tempat suci dengan ditandai adanya bangunan suci.
Baca juga:
Nah, jejak sejarah ini dipercaya telah ada di Bali sejak masa prasejarah. Hal ini diperkuat dengan penjelasan yang ada dalam sumber kutipan jejak Megalitikum di Bali. Dalam merajan juga tidak luput dijelaskan bahwa Gedong Limas atau meru tumpang satu, tiga, dan lima merupakan palinggih Bhatara Kawitan yang berarti leluhur utama dari sebuah keluarga.
Pada umumnya, Pelinggih Pura Puseh yang telah disebutkan tersebut menggunakan meru yang dibangun sebagai sebuah tempat suci bagi pemujaan dari Bhatara Wisnu. Dalam Siwa Buddha sendiri telah dijelaskan bahwa Mou Kuturan yang berperan dalam pengembangan konsep pura kahyangan tiga yang ada di Bali dengan peninggalan berupa meru.
Dalam Stiti Dharma Online, meru sendiri disebutkan sebagai makna angka 11 pada upacara yadnya dengan atap bertumpang 3 yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan yang ada di Bali untuk pertama kalinya.
Namun, semenjak kedatangan Danghyang Nirartha pada abad ke-14 lalu, jumlah dari atap tumpang meru ini berkembang menjadi 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 yang disebut sebagai Meru Tumpang Sebelas: 11. Ada juga meru dengan atap tumpang dua.
Desain Arsitektur Meru
Dalam desain arsitektur dari meru ini dijelaskan bahwa tingkatan atap meru merupakan dimbolisasi dari penyatuan dasa aksara (yang merupakan aksara suci sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, dan ya). Hal ini digunakan sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta.
Sepuluh dari huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya ada di 10 penjuru alam semesta, termasuk yang ada di tengah. Penunggalan dari 10 huruf dari makna angka 11 pada upacara yadnya tersebut menjadi salah satu lambang aksara suci bagi umat beragama Hindhu, yakni Omkara.
Untuk jenis meru atap sebelas memiliki sepuluh huruf suci dengan tambahan satu huruf Omkara didalamnya. Untuk meru beratap 9 terdiri dari 8 huruf suci dan satu huruf Omkara di bagian tengahnya. 9 huruf ini dilambangkan dengan lambang Dewata Nawa Sanga.
Baca juga:
Sedangkan untuk meru beratap 7 terdiri dari 4 lambang huruf suci dan tiga huruf Omkara di tengahnya. Ini merupakan lambang dari Sapta Dewata atau Sapta Rsi. Meru atap 5 merupakan sebuah simbolis dari lima huruf suci ditambah dengan satu huruf Omkara di bagian tengahnya juga. Huruf ini merupakan lambang dari Panca Dewata.
Meru dengan atap 3 merupakan sebuah simbol dari tiga huruf yang ada di tengah. Lambang ini dijadikan sebagai bagian dari Tri Purusa yakni Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa. Untuk meru beratap 2 merupakan simbolis dari dua huruf yang berada di tengah yang merupakan lambang dari Purusa dan Pradhana.
Terakhir, meru beratap satu merupakan sebuah simbolis dari penunggalan ke-10 dari huruf suci yakni Om atau Omkara sebagai perlambang dari Sang Hyang Tunggal. Satya Loka sendiri dilukiskan dengan tumpang meru paling atas dengan lambang Omkara dalam makna meru pada tahapan kehidupan manusia di bumi.
Inilah penjelasan terkait dengan makna angka 11 pada upacara yadnya yang dilakukan oleh umat beragama Hindhu, tepatnya yang dilakukan oleh masyarakat Bali.
Arti Nama dalam Navigasi Numerologi didasarkan pada pemahaman tentang kualitas unik yang ditemukan dalam analisis nama Anda. Pemilihan nama adalah terjemahan bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam memberikan nama untuk Anda.
Arti Nama Numerologi yang terkandung di dalam nama Anda mewakili pola pikiran mental yang merangsang kualitas kecerdasan Anda dengan cara tertentu. Kualitas-kualitas ini dapat bersifat membangun atau merusak, seimbang atau tidak seimbang.
Setelah Anda memiliki wawasan tentang arti nama numerologi dalam nama Anda, Anda akan menyadari pola berpikir Anda secara keseluruhan, termasuk kekuatan dan kelemahan Anda.
Free Scan Nama dan Arti Nama
dengan Download Aplikasi ARCBali Numerology Pro Version




